MENULISLAH MAKA SEJARAHMU AKAN ABADI

Sunday, October 14, 2012

Opium di Jawa (Candu tempo Doeloe)


Opium di Jawa
(Candu tempo Doeloe)
Melihat tulisan dari James R. Rush yang menceritakan bagaimana sejarah perkembabngan Candu (opium) masuk ke pulau Jawa hingga bagaimana perkembangannya baik dari segi ekonomi maupun dari kebutuhan masyarakat hingga peran pemerintah Hindia belanda bersama dengan  pengusaha-pengusaha tiongha yang berafiliasi dengan penjajah Belanda.
Dapat dilihat adanya zona bebas dari candu yaitu daerah yang tidak boleh adanya penyebaran candu untuk masyarakat di daerah tersebut meskipi nbelanda merupakan kaum minoritas tapi ia mampu nebnguasai pulau jawa. VOC yang pada awalnya bekerja sama dengan kerajaan di Pulau jawa melihat Jawa sebagai pulau tropis terbaik di Dunia. Kisahnya ketika  seorang naturalis inggris, Alfred Russel Wallace mengunjungi pulau jawa. Selama tiga setengah bulan ia menjelajahi kota-kota dan wilayah-wilayah pedalamannya. Dia melakukan perjalanan ke daerah pedesaan dan terkejut oleh keindahan dan kemakmuran jawa. Dia terkagum-kagum pada luas, padat, serta produktivitas penduduk yang hidup damai.
Pada awalnya Kompeni Hindia Timur Belanda (VOC) dengan hati-hati mulai mendirikan sebuah pusat perdagangan dengan membatasi diri pada beberapa pusat perdagangan berbenteng di kota-kota pelabuhan di  pulau jawa. Pada tahun 1691, Jan pieterszoon Coen membangun batavia sebagai markas besar VOC, yang berkedudukan di kota tua VOC. Batavia dalam rencana besar Coen akan menjadi ibukota imperium Asia baru milik Belanda dan dalam proses itu mulailah bermunculan konsensi-konsensi denganm pengusaha lokal untuk mendapatkan hak-hak dagang istimewa yaitu monopoli opium.
Hal itu berubah dikarenakan perang jawa yang menghabiskan banyak biaya maka di mulailah tanam paksa agar mengembalikan keuntungan yang besar jarena biasa tersebut dan sekitar 1860 – an,  pak opium muncul sebagai sebuah lembaga kunci di negara kolonial ini dengan saling berhubungan dengan lembaga-lembaga seperti sistem pegawai Tionghoa, Pangreh Praja, dan Pegawai Kolonial. Pada tahun perkembangan ekonomi setelah berakhirnya Sistem tanam Paksa, pak opium mencapai bentuknya yang paling matang dan memiliki pengaruh paling luas. Di bawah kepengurusan Belanda, opium pernah merajai pulau tropis terbaik di dunia ini. 
Opium di tengarai di bawa oleh pedagang arab ke Indonesia. Ketika belanda masuk ke Indonesia opium sudah menjadi komuditas dikalangan masyarakat dan kemudian belanda mulai melakukan impor terhadap opium mentah dalam jumlah besar. Opium dikalangan masyarakat jawa digunakan untuk kesehatan dan mengobati berbagai macam penyakit dan digunakan oleh kuli-kuli untuk obat kuat. Dalam perkembangannya opium semakin berkembang hingga daidakannya pelelangan pak opium di kediaman resmi bupati senior. Orang-orang tiongha memiliki peran signifikan dalam tiap proses pelelangan tersebut karena mereka memiliki modal yang cukup besar serta mereka membuat sebuah perkongsian dalam menjadi penguisaha opium bukan hanya itu saja orgnasiasi-organisasi pak opium juga mulai bermunculan. Hal ini dilihat begitu banyaknya toko-toko  yang menjual opium.
Bunga opium (pepaver somniferum) tidak ditanam dijawa. Sedangkan opium resmi yang dikonsumsi dijawa pada abad ke 19 berasal dari turki dan persia atau British Bengal. Pemerintah belanda membelinya melalui pedagang swasta Belanda di Levant, pada pelelangan di Calcutta atau dari agen di British Singapore dan mengalirkannya dalam jeda waktu yang teratur kepada para pengepak opium di jawa melalui gudang-gudang di Batavia, Semarang dan Surabaya. Monopoli impor opium mentah ke jawa satu-satunya langkah administratif jangka panjang yang diambil oleh belanda untuk mengontrol jumlah opium yang sampai ketangan penduduk. Upaya monopoli terhadap pembatasan jumlah opium resmi berarti lebih sedikit opium yang tersedia untuk dikonsumsi.
Opium masuk ke Hindia lewat Eropa, Cina, Singapura, dan kerajaan-kerajaan serta entrepot. Seperti halnya opium resmi, sebagian besar opium gelap ini berasal dari Timur Tengah dan British India. Kebanyakan opium ilegal sampai dijawa setelah berpindah-pindah tangan di Singapura dan kemudian dibawa kepulau Bali lalu masuk ke pulau jawa.

Seorang pejabat Batavia yang bertanggung jawab atas urusan-urusan opium pada pertengahan 1806-an adalah Christian Castens. Menurut perkiraannya, 60% opium yang dikonsumsi dijawa adalah merupakan opium gelap dan opium ilegal.Penyeludupan opium menjadi hal lumrah bagi hampir semua orang karena mudahnya pembelian opium mentah diSingapura, Cina atau dipelabuhan-pelabuhan bebas di Kepulauan Indonesia, mudahnya opium melewati Bea Cukai yang tidak efisien dan menarik di Belanda Jawa. Singkatnya, penyeludupan opium adalah bagian rutin perdagangan komersial orang-orang Tionghoa, aspek lain dari “peperangan antara raja-raja”.

Pak opium tiongha adalah elit kecil di wilayah jawa kolonial. Keluarga tiongha jawa adalah mereka yang memiliki kekayaan dan kedekatan dengan pemerintah belanda . mereka di butuhkan oleh belanda sebagai perantara untuk memasarkan barang-barang milik kompeni.  Hingga kompeni pun mengangkat seorang kapitan dari orang tiongha untuk pertama kalinya di Batavia pada 1619 hal ini dimaksudkan agar kapitan atau pejkabat-pejabat yang diangkat oleh belanda ini bisa mengendalikan komunitas tiongha diwilayah yang terdapat tiongha jawa tersebut. Dalam perkembangannya Belanda pun mengeluarkan aturan-aturan untuk etnis ini, dalam hal ini belanda menunjukkan betapa pentingnya orang tiongha bagi belanda selain itu aturan-aturan itu juga di maksudkan untuk melengkapi sistem tanam paksa.

Sekitar abad ke-19 cabang atas sudah menjadi kelas yang sangat terpandang; anak dari para pejabat tiongha ini banyak yang menikahi anak pejabat tiongha lainnya bahkan pada usia yang masih sangat muda dan keturunan dari keluarga tiongha ini sudah banyak mengembangkan diri, ada juga yang memeluk  Islam, mengabdi kepada para dan bangsawan jawa. Dalam keluarga peranakan, kaum perempuan merupakan pelaku asimilasi yang kuat. Tiap orang tiongha yang berhasil dalam bisnis pak opiumnya belanda mengangkat mereka menjadi mayor, kapitan, letnan dan yang pasti mereka diangkat menjadi pejabat oleh belanda.

Menguasai sebuah pak opium adalah langkah pertama dan utama menuju dominasi perdaganagan yang menjanjikan dalam sebuah keresidenan tertentu. Belanda dalam hal ini merancang hukum-hukumn agar orang tiongha untuk tetap tinggal di perkampungan kumuh di kota-kota pesisir maupun kota kecil. Namun aturan ini justru memungkinkan kelompok tiomngha kuat tertentu mendapatkan pengaruh dominan terhadap penduduk tiongha lainnya.

Pertama, dengan mengizinkan memonopoli pajak dan kontrak yang memberikan pengecualian atas peraturan tersebut. Kedua, mengizinkan para penegak pajak untuk mengeksploitasi kewenangan setengah legal. Kewenangan itu dalam teori di batasi khusus menyelidiki pelanggaran monopoli  untuk menyerang para pesaing dan menegaskan mereka secara umum. Dan kebanyakan pengepak opium adalah pejabat tiongha tingkat tinggi dan pejabat rendahj adalah sanak keluarga dan klien mereka, tapi tidak ada tatanan tiongha yang bisa mendominasi sepenuhnyasebuah keresidenan.

Persaingan para  pedagang    tionghoa utk meraih pasar pak opium dg memanfaakan berbagai lembaga penting dalam masyarakat yang bersifat mengikat adalah lembaga peradilan kolonial. Pembauran  kepentingan-kepentingan elite tionghoa, orang jawa dan belanda adalah satu diantara sisi utama kelembagaan masyarakat yg jamak. Para pedagang tionghoa akan berkolaborasi dengan para pejabat pemerintahan yang dijabat para priyayi baik dari tingkat bupati sampai wedono dan bahkan antara lurah desa yang membentuk hubungan dengan Belanda.

Pengadilan kolonial hanya merupakan alat kepanjangan dari belanda untuk menancapkan kekuasaan di Indonesia, ada semacam kelonggaran bagi masyarakat tionghoa yang melakukan pelanggaran hukum, karena kaum tionghoa memegang perekonomian adanya sifat ambiguinitas pengadilan memberikan kesempatan bagi pelanggar hukum penjualan opium yang hanya diadili oleh polisi rol. Ada beberapa catatan statistik tentang kasus opium:
1.       Rata-rata 35 % polisi rol yg tangani kasus opium yg libatkan orang tionghoa ,
2.       80% kasus kepemilikan opium yg tdk sah ,sebuah tuduhan yg lemah drpd pasar opium gelap.
3.       Kasus opium yg ditangani hhanyalah kasus kecil.

Pemanfaatan para pihak yang bermain dibidang hukum benar-benar dimanfaatkan betul oleh pedagang opium gelap dari kaum tionghoa sehingga mmereka bisa lepas dari jerat hukuman seperti mereka berhasil mempengaruhi para polisi pribumi atau priyayi dalam menyampaikan laporan kepada atasannya. Adanya permainan kotor seperti menjebak korban kepemilikan opium banyak dilakukan oleh para priyayi yang dibantu mantri polisi untuk menjebak korbannya hal inilah yang digunakan orang tionghoa dalam mengembangkan pasar opiumnya.

Kaum tionghoa membuat semacam balas budi dengan memberikan pinjaman uang yang besar kepada orang jawa sebagai priyayi, sehingga kaum priyayi merasa hutang  budi dan akhirnya memberikan segala cara untuk melancarkan pasar gelap opium bagi kaum tionghoa. Adanya pandangan dari kaumm bupati yang apabila bisa menyumbang pajak yang besar akan berdampak pada karirnya , sehingga para bupati dengan sengan hati menerima pajak dari para pak opium, dan hal ini akan menambah semakin besar usaha penjualan opium di jawa. Pandangan yang kedua bahwa kegiatan pak opium tidak membahayakan keamanan dan ketentraman masyarakat. Adanya praktik menerima suap yang dilakukan oleh para bupati semakin melancarkan usaha pak opium oleh tionghoa.menyediakan perlengkapan hidup yang mmahal merupakan keahlian para kaum pak opium tionghoa .memberikan hiburan yang mewah dan sebagainya merupakan usaha pak opium tionghoa untuk memperlancar usahanya.
   

0 comments:

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More